fashingnet.com-Penggerebekan teroris yang dilakukan oleh Densus 88 selalu menyita perhatian publik. Desingan suara tembakan yang terus terjadi dan lamanya proses penggerebekan membuat publik terus memantau setiap aksi penggerebekan.
Bahkan warga juga berbondong-bondong ingin menyaksikan lokasi penggerebekan teroris. Mereka ingin lebih dekat melihat lokasi dimana satuan elit itu menghujani para terduga teroris itu dengan ribuan amunisi.
Namun ada kisah-kisah lain yang terkadang lucu atau bahkan misterius saat terjadi penggerebekan tersebut. Berikut 4 sisi lain dari penggerebekan yang dilakukan oleh satuan khusus yang berjumlah 88 orang itu.
1. Densus berondong rumah kosong di Alas Roban
Setelah melakukan penggrebekan di Daerah Limpung Batang, Jateng Kamis (9/5) Densus 88 Mabes Polri kembali melakukan penggrebekan terduga teroris di pedalaman Alas Roban, Subah, Batang, Jateng. Namun, dalam penggrebekan tersebut, petugas tidak menemukan siapapun karena rumah sudah dalam keadaan kosong.
Kerumunan warga terus memadati lokasi rumah usai di kepung dan diberondong peluru petugas di Gagatan RT 5 RW II, Desa Kemiri Timur, Kecamatan Subah, Batang, Jateng.
Lokasi yang berjarak 2 km dari jalur pantura dan berada di pedalaman hutan jati Alas Roban, Batang, Jateng diduga menjadi tempat perundingan dan pertemuan para terduga teroris.
Menurut informasi yang berhasil dihimpun merdeka.com, sebelum penggrebekan terjadi, dua truk petugas Densus 88 dan langsung mengepung rumah tersebut.
Tidak hanya itu petugas juga langsung memberondong seluruh sisi rumah hingga seluruh kaca depan hancur berantakan. Namun petugas tidak menemukan seorang pun terduga teroris di dalam rumah tersebut.
2. Terduga teroris ditangkap saat Salat Magrib
Densus 88 Mabes Polri menangkap terduga teroris Purnawan Adi Sasongko di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kendal. Dalam penggeledahan tersebut, Densus 88 mengamankan sebuah tas yang diduga berisi uang milik terduga teroris.
Ifa, teman istri Purnawan mengatakan Densus 88 mendobrak pintu depan dan menangkap Purnawan saat Salat Maghrib. Pintu depan rusak akibat didobrak tim Densus 88 dan meninggalkan keluarga terduga setelah menangkapnya.
Slamet warga sekitar rumah terduga teroris mengatakan, Purnawan Adi Sasongko tidak pernah berkumpul dengan tetangga.
3. Sosok misterius sebelum penggeledahan di rumah ungu
Warga Jalan Arum Sari 7 RT 5 RW 12, Kelurahan Babakan Sari, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung dihebohkan dengan penggeledahan rumah kos ungu di kawasan mereka. Sebelum penggeledahan, warga pun bertemu dengan seorang imam misterius.
"Jadi tadi kita salat Ashar di Masjid Al Ikhlas, nah yang jadi imam bukan orang sini. Orangnya tinggi, putih bersih pakai peci umuran sekitar 26-an," ujar Undang warga Jalan Arum Sari, Kamis (9/5).
Menurut Undang, pria yang mengimami dirinya dan beberapa warga itu memang memperlihatkan gerak-gerik yang aneh saat salat. Bahkan sang imam misterius itu pun salat dengan ngebut.
"Salat empat rakaat tapi buru-buru banget. Beres salat dia langsung pulang ke arah rumah kos itu," terangnya Undang.
Rumah kos ungu dengan masjid Al Ikhlas sendiri berjarak sekitar 200 meter. Di tengah jalan tiba-tiba terdengar suara sirene mobil polisi.
"Nah orang itu langsung lari balik kanan. Tadinya dia jalan ke arah rumah kos (ke barat) tapi begitu denger sirene polisi langsung lari ke balik arah ke timur," terangnya.
Namun saat itu Undang dan beberapa warga hanya bisa berpangku pandang. Mereka tidak mengetahui apa yang membuat laki-laki tersebut berlari balik arah.
"Eh tahunya kos itu digeledah polisi. Kita juga tidak kenal siapa yang ngekos di situ karena itu kosan baru," terangnya.
4. Pondok pesantren Al-Basyariyah ikut cemas
Tak jauh dari lokasi penggerebakan sarang teroris di salah satu kontrakan Desa Cigondewah, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, terdapat Pondok Pesantren Al-Basyariyah. Kemarin orang tua santri sempat panik bahkan ada yang menjemput karena disebut-sebut Ponpes tersebut adanya keterkaitan dengan para tersangka.
Kepala Sekolah Al-Basyariyah Endang Suhendi pun membantah isu miring tersebut. Dia menegaskan bahwa Ponpes tidak ada hubungannya dengan penggerebekan yang menewaskan tiga terduga teroris.
"Jelas kejadian kemarin sempat membuat kami kaget, apalagi kejadian ini sangat berdekatan dengan Ponpes kami. Ada orang tua datang menjemput, tapi kami tegaskan kami begitu ketat," kata Endang saat ditemui di lokasi, Kamis (9/5).
Menurutnya, keberadaan kelompok teroris bisa di mana saja. Karena umumnya, mereka membaur dengan kondisi apa saja. "Ini kebetulan terjadi di tetangga pesantren," ujarnya.
Namun pihaknya risih ketika keberadaan teroris dikait-kaitkan dengan Al-Basyariyah. Padahal, tegas Endang, mereka tak tahu menahu soal itu. "Tapi ini saya tegaskan tidak ada hubungannya," tegas Endang.
Di pesantren itu sendiri kini dihuni 1.400 santri. Dia memastikan aktivitas di pesantren pimpinannya berjalan seperti biasa pasca penggerebekan terduga teroris pada Rabu (/9/5).